Integrasi KKA (Koding dan Kecerdasan Artifisial) pada Fase Kelas X SMK
Oleh : Rocky Febrin Satya Rindhy, Humas SMK Negeri 2 Tegalsari - Jumat, 23 Januari 2026
Foto : Dibuat dengan Qwen
Tegalsari – Sejalan dengan transformasi digital yang semakin masif, dunia pendidikan di Indonesia mengalami perubahan mendasar melalui penerapan Kurikulum Merdeka. Salah satu inovasi penting dalam kurikulum ini adalah pengenalan KKA (Koding, Kecerdasan Artifisial, dan Analitik Data) sebagai bagian dari literasi digital abad ke-21. Di jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), khususnya kelas X, integrasi KKA bukan hanya bersifat opsional, melainkan menjadi fondasi strategis untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi tuntutan industri 4.0 dan society 5.0.
Apa Itu KKA dalam Konteks Kurikulum Merdeka?
KKA merupakan singkatan dari Koding, Kecerdasan Artifisial (AI), dan Analitik Data, yang dirancang oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai bagian dari Platform Merdeka Mengajar (PMM). Tujuannya adalah membekali siswa dengan kemampuan berpikir komputasional (computational thinking), literasi digital, serta pemahaman dasar tentang teknologi masa depan.
Menurut panduan resmi Kemendikbudristek (2023), KKA diperkenalkan sejak fase E (kelas X SMA/SMK/MA) sebagai bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), khususnya dalam tema “Berkebinekaan Global” dan “Gaya Hidup Berkelanjutan”, dengan pendekatan interdisipliner.
Implementasi KKA di Kelas X SMK
Di SMK, penerapan KKA disesuaikan dengan karakteristik kejuruan. Meskipun tidak semua jurusan berbasis teknologi informasi, seluruh siswa SMK tetap wajib mendapatkan eksposur terhadap konsep dasar KKA. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa hampir semua sektor industri—mulai dari manufaktur, pertanian, pariwisata, kriya, hingga tata busana—kini menggunakan sistem digital, otomasi, dan analisis data.
Contoh implementasi di kelas X SMK antara lain:
Koding: Siswa belajar logika pemrograman dasar menggunakan platform seperti Google Teachable Machine, Scratch, atau Blockly. Mereka diajak membuat alur sederhana, misalnya simulasi sistem antrian di bengkel (untuk jurusan TKRO) atau aplikasi pencatatan stok bahan tekstil (untuk jurusan kriya tekstil).
Kecerdasan Artifisial (AI): Siswa memahami prinsip AI melalui eksperimen praktis, seperti melatih model AI sederhana untuk mengenali pola batik atau mengklasifikasi jenis kerusakan mesin berdasarkan suara. Platform seperti Teachable Machine memungkinkan siswa tanpa latar belakang coding untuk membangun model AI berbasis machine learning.
Analitik Data: Siswa diajak mengumpulkan data sederhana (misalnya hasil survei kepuasan pelanggan PKL) dan menganalisisnya menggunakan spreadsheet atau tools visual seperti Google Data Studio.
Mengapa KKA Penting bagi Siswa SMK Kelas X?
Kesiapan Kerja Masa Depan
Laporan World Economic Forum (2023) menyatakan bahwa pada tahun 2025, lebih dari 50% pekerjaan akan membutuhkan keterampilan digital dasar, termasuk pemahaman AI dan analisis data. Dengan memperkenalkan KKA sejak kelas X, SMK memastikan lulusannya tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga adaptif terhadap perubahan teknologi.
Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Melalui KKA, siswa dilatih menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner), berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif—nilai-nilai inti dari Profil Pelajar Pancasila.
Penyetaraan Akses Literasi Digital
Banyak siswa SMK berasal dari daerah dengan akses teknologi terbatas. Dengan menyediakan pembelajaran KKA secara merata, pemerintah menutup kesenjangan digital sejak dini.
Tantangan dan Solusi
Meski memiliki banyak manfaat, implementasi KKA di SMK menghadapi tantangan, seperti:
Ketersediaan infrastruktur digital (internet, perangkat).
Kompetensi guru dalam mengajar materi KKA.
Persepsi bahwa KKA hanya untuk jurusan IT.
Untuk mengatasinya, Kemendikbudristek telah menyediakan:
Modul pelatihan gratis melalui Platform Merdeka Mengajar.
Panduan projek KKA yang kontekstual dengan berbagai jurusan SMK.
Kolaborasi dengan mitra industri untuk pelatihan guru dan penyediaan sumber daya.
Integrasi KKA pada fase kelas X SMK bukan sekadar tren, melainkan respons strategis terhadap realitas global yang berubah cepat. Dengan pendekatan yang kontekstual, inklusif, dan berbasis projek, KKA menjadi jembatan yang menghubungkan kompetensi kejuruan tradisional dengan keterampilan digital masa depan. Bagi siswa SMK, penguasaan dasar koding dan AI bukan berarti harus menjadi programmer, tetapi menjadi tenaga kerja yang melek teknologi, mampu berkolaborasi dengan sistem digital, dan siap berinovasi di era revolusi industri.
Referensi:
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. (2023). Panduan Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kemendikbudristek.
Platform Merdeka Mengajar. https://guru.kemdikbud.go.id/
World Economic Forum. (2023). Future of Jobs Report 2023.
UNESCO. (2021). AI and Education: Guidance for Policy-makers.
*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan mungkin terdapat kekeliruan serta bukan merupakan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.